Welcome to my world

smiledevils

Sabtu, 03 Juli 2010

"TANAH AIR BETA" mencari kakak yang tak kunjung tiba




Jenis Film : Drama keluarga
Produser : Ari Sihasale
Produksi : Alenia Pictures
Pemain : Alexandra Gottardo, Asrul Dahlan, Griffit Patricia, Yahuda Rumbindi, Lukman Sardi, Ari Sihasale, Robby Tumewu, Thessa Kaunang
Sutradara : Ari Sihasale
Penulis : Armantono
Ilustrasi musik : Aksan Sjuman dan Titi Sjuman
Durasi : 90 menit


Sebenarnya saya menonton film ini saat pertama premiere yang lalu, tapi baru ada mood untuk membuat sedikit resensi tentang film ini.

Setelah menonton film DENIAS dan KING beberapa tahun yang lalu, entah kenapa saya mulai mengagumi sosok Ari Sihasale sebagai seorang sutradara muda baru yang menurut saya punya kualitas yang mengejutkan. Dua film itu (Denias dan King), merupakan karyanya yang digarap secara jujur dan penuh perasaan, Ari Sihasale berhasil membuat film untuk anak-anak yang disajikan penuh dengan kesederhanaan namun sangat luar biasa pengaruhnya bagi orang yang menonton. Saya sempat dibuat meneteskan air mata saat menyaksikan perjuangan seorang Denias yang ingin sekali dapat bersekolah di tempat yang lebih layak, saya pun kemudian dibuat terkagum-kagum melihat sosok seorang ayah yang sangat mencintai anaknya di film King. Sungguh, setelah saya terpuaskan oleh kedua film itu, saya kemudian mulai berani mengambil kesimpulan bahwa Ari Sihasale sangat layak untuk saya sebut sebagai sineas muda yang sangat berbakat, dan sejak itu, saya berjanji pada diri saya sendiri, untuk terus mengikuti perkembangan film yang akan digarap oleh beliau di bawah naungan Alinea Pictures. Saya akan selalu siap menanti dan menyaksikan film-film apa lagi yang akan digarap mereka.

Begitu pun saat saya mengetahui bahwa akan ada film baru berjudul TANAH AIR BETA yang digarap oleh Alinea Pictures. Dan saat premiere pertamanya, saya menyempatkan diri untuk menonton film ini. Berikut sinopsisnya:

Film ini menceritakan tentang Mauro (Marcel Raymond) seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang harus terpisahkan dengan Ibu-nya Tatiana (Alexandra Gottardo) dan juga adik perempuannya yang baru berumur sepuluh tahun, Merry (Griffit Patricia), akibat Peristiwa revolusi kemerdekaan tanah Timor Timur atau yang lebih dikenal sebagai Timor Leste yang sekarang resmi memisahkan diri dari Indonesia.

Saat peristiwa itu, Mauro terpisahkan dari Ibu dan adiknya dan terpaksa tinggal bersama pamannya di perbatasan. Sementara Tatiana dan putrinya Merry lebih memilih tinggal di negeri tercintanya Indonesia.

Film ini kemudian bercerita mengenai perjuangan sang Ibu, Tatiana untuk mencari putra satu-satunya Mauro ke perbatasan. Namun hasilnya selalu nihil. Merry yang sangat mencintai kakak laki-lakinya itu pun sangat berharap agar ia segera dipertemukan dengan kakak tercintanya, Mauro. Namun setelah pencarian yang selalu tidak membuahkan hasil itu, akhirnya Tatiana harus rela berbohong pada Merry bahwa kakaknya baik-baik saja dan akan segera kembali suatu saat nanti.

Disini dikisahkan juga seorang anak laki-laki bernama Carlo (Yehuda Rumbini), yang terkenal sangat nakal dan sering sekali mengganggu Merry. Namun dibalik kenakalannya itu, ternyata nasib Carlo tidak kalah menyedihkan dari Merry. Ia kehilangan kedua orangtuanya, dan kini ia tidak punya siapa-siapa lagi selain bapak angkatnya sekarang (saya lupa namanya, hehe). Merry selalu dibuat kesal oleh Carlo, dan tiap kali ia dibuat kesal oleh Carlo, maka Merry akan selalu bilang pada Carlo bahwa sebentar lagi kakaknya Mauro akan datang dan Carlo tidak akan berani lagi mengganggunya. Hingga suatu saat, Carlo merebut sebuah harmonika milik Merry dan tidak sengaja menjatuhkannya ke sungai. Merasa bersalah, akhirnya Carlo berjuang untuk membeli sebuah harmonika baru untuk Merry. Sementara itu, Merry makin bersedih kala diam-diam dia mengetahui bahwa selama ini Ibunya berbohong mengenai rencana kepulangan kakaknya Mauro. itu membuat Merry semakin bersikeras untuk dapat bertemu dengan kakaknya, dan ia pun memutuskan untuk pergi sendirian ke perbatasan untuk mencari kakaknya Mauro. Bayangkan saja, untuk mencapai ke perbatasan, dengan menggunakan sepeda motor saja membutuhkan waktu 8 jam, sementara karena kekurangan ongkos, Merry terpaksa berhenti ditengah perjalanan dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Carlo yang kemudian mengetahui kalau Merry pergi dari rumah dan hendak menuju ke perbatasan, akhirnya ditugaskan oleh sang ayah angkat untuk menyusul Merry yang mungkin masih belum terlalu jauh. Dan bertemulah Carlo dengan Merry, namun niat Merry untuk terus menuju ke perbatasan akhirnya membuat Carlo merasa iba dan akhirnya memutuskan untuk membantu Merry mencapai perbatasan. Lalu apakah hubungan kedua anak yang sering bertikai ini akan menjadi baik? apakah Merry berhasil bertemu dengan kakaknya Mauro?? tonton sendiri yaa.... heheh...

Filmnya menurut saya cukup bagus, ceritanya sederhana namun sangat bermakna. Oke, mungkin diawal cerita film ini agak sedikit keteteran, sepertinya awal cerita hanya dibuat untuk memperpanjang durasi film yang mungkin kalau ditiadakan maka akan menjadi film dengan durasi terpendek sepanjang masa. hehehe.

Menurut saya, scene-scene awal difilm ini terasa hambar sekali, khususnya dibagian komedinya, yang menurut saya sangat mudah ketebak dan berjalan lambat sekali, sehingga unsur komedinya terkesan hambar dan garing. Namun kemudian cerita mulai sedikit teratur kembali, walaupun saya sempat dibuat ngantuk sedikit karena alur yang lambat dan terkesan membosankan. Tapi untungnya itu hanya berlangsung sebentar saja, karena setelahnya saya lalu disuguhkan dengan alur cerita yang mulai mengalir dengan enak. Ada scene yang berhasil membuat saya sedikit terharu adalah saat datang kabar untuk Carlo yang mengabarkan bahwa Ibu-nya sudah meninggal dunia. Atau saat Tatiana sedang mengajar dikelas kecil dengan alat seadanya, kemudian Tatiana mulai bertanya satu-satu pada murid-muridnya termasuk putrinya sendiri Merry tentang cita-cita jika sudah besar nanti. Ada yang menjawab ingin menjadi petani, presiden, dokter, dsb. Namun saat tiba giliran Carlo yang ditanya, jawabannya sungguh memilukan.

"Carlo... apa kau punya cita-cita kalau su besar nanti??"

Carlo terdiam sejenak kemudian menjawab:

"Saya tidak punya cita-cita Ibu..."
"Ada, tapi cita-cita saya berbeda.."
"Saya punya cita-cita hanya ingin berkumpul dengan Mama dan papa..."


Mendengar jawaban Carlo yang sedrhana itu benar-benar membuat saya merinding. Dan sejak saat itu, tokoh favorit saya di film ini adalah anak nakal bernama Carlo!!!. haha...

Mengenai keseluruhan film ini, menurut saya cukup bagus tapi tidak terlalu bagus jika dibandingkan dengan kedua film sebelumnya, Denias dan King. Enatahlah, mungkin karena tidak ada konflik yang signifikan yang diangkat film ini, dan juga ending dari film ini yang terasa sangat cepat dan biasa saja, sehingga begitu film ini berakhhir, maka kita akan berkata dalam hati: "Oh.. udah aja ya??".
Mengenai cinematografi dan scoring, seperti biasanya, sangat memukau. Sudah tidak perlu diomongin lagi kalau masalah cinematografinya. Scoring-nya pun mantap, walaupun belum berhasil membuat saya mengharu biru (kecuali dipart lagu Tanah Air Beta). Untuk akting, saya gag bisa berkomentar banyak, tapi saya mengacungkan 5 jempol saya untuk anak yang memerankan Carlo, he's the best!!! bahkan, pemeran anak wanitanya malah terlihat sangat jeglek aktingnya kalau dibandingkan dengan akting Carlo. Lukman Sardi, Thessa Kaunang dsb juga ga begitu memukau, mungkin karena mereka hanya sebagai pemeran pendukung aja kali ya?.

Tapi film ini tetap layak untuk ditonton, sangat layak malah. Film ini tetap tidak membuat point saya turun terhadap karya Alinea Pictures selanjutnya, saya tetap menanti karya selanjutnya. Ayooook... nonton yooook...... :)

watch the trailer:

Senin, 03 Mei 2010

"VERTIGE" mendaki gunung terlarang


Director: Abel Ferry

Writers: Johanne Bernard, Louis-Paul Desanges

Release Date: 24 June 2009 (France)

Genre: Action | Adventure | Thriller 


Well, awal gue tertarik buat nonton film ini adalah karena melihat POSTER kerennya. Dari POSTER nya gue bisa mengasumsikan bahwa film ini akan sehebat Vertical Limit, yang menceritakan tentang pendakian yang menegangkan. Jujur, sebelum nonton film ini, gue sengaja tidak mencari tahu semua hal mengenai sinopsis atau resensi film ini, yeah gue cuma pengen rasa penasaran gue dibayar setelah gue menonton film ini.


Oke about the synopsis, tapi ini agak SPOILER ya, jadi bagi yang ga mau semua cerita di film ini terungkap disini, mending cuci tangan, cuci kaki, sikat gigi, terus bobok deh... :)


Cerita dimulai saat 5 orang sahabat berencana untuk bersenang-senang dengan cara merencanakan sebuah pendakian ke-gunung di Croatia. Mereka adalah: Fred, Karine (pacarnya Fred), Loïc dan pacarnya Chloe, dan juga Guillaume yang ternyata sudah lama menyimpan perasaan cinta terhadap Chloe.


Saat mereka sampai ditempat tujuan, tiba-tiba saja Fred yang mana adalah pemimpin pendakian tersebut melihat tanda peringatan "Tidak boleh mendaki ke jalur ini", malah nekat mengajak ke-empat sahabatnya itu untuk mendaki di jalur terlarang itu. Karena Fred yakin jalur itu masih bisa dilalui, maka mereka pun setuju untuk mendaki ke jalur terlarang itu.


Pendakian pertama berjalan lancar, walaupun Loic sedikit memperlambat pergerakan mereka karena ke-Phobia-annya terhadap ketinggian (begok! udah tau takut ketinggian, malah nekad ikut!). Namun Loic selalu mendapat dukungan dari ke-empat sahabatnya itu, terutama dari kekasihnya Chloe yang ternyata adalah seorang Dokter. 

Ketegangan mulai muncul saat mereka menemukan sebuah jembatan panjang yang menghubungkan satu tebing ke tebing lainnya. Fred dan Guillaume memimpin pertama kali untuk menyebrangi jembatan maut itu, dan berhasil. Kemudian disusul oleh Chloe yang juga berhasil sampai ke sebrang tebing, dan dibelakang Chloe, si pengecut Loic masih berada ditengah jembatan dan parahnya, penyakit phobia-nya tiba-tiba kambuh ditengah penebrangannya. Teman-temannya sudah menyemangati, namun Loic masih terdiam ditengah dengan lutut bergetar. Namun setelah Chloe memberikan semangat dan dorongan, akhirnya Loic berhasil menyebrang. Tersisalah Karine dibelakang, yang kemudian segera menyebrang menuju tebing dimana teman-temannya berada. Namun, tiba-tiba saja ditengah jembatan, Fred dan kawan-kawannya yang lain menyadari kalau jembatan itu tidak akan lama menahan Karine, karena jembatan itu sudah goyang, rapuh, dan hampir putus. Maka karena tidak ada pilihan lain, Karine pun dengan cepat bergegas menyebrang, namun sial, jembatan itu akhirnya putus dan ambruk ke bawah jurang, sementara Karine masih bergelantungan di salah satu tali penyangga. But, what a lucky girl! Karine selamat!.


Jembatan itu adalah satu-satunya jalan menuju pulang, namun karena tidak ada pilihan lain, maka Fred mengusulkan agar mereka mendaki dulu ke-atas tebing dan menyusun rencana di atas sana. Mereka kembali sial, jalur yang mereka lewati ternyata putus ditengah jalan, sehingga mereka mau tidak mau harus mendaki ke-atas tanpa bantuan jalur yang sudah tersedia. Dan ini membuat (lagi-lagi) Loic ketakutan setengah mati. Akhirnya, Fred dan kekasihnya Karine memutuskan untuk mendaki lebih dulu ke-atas dan akan membantu ke-tiga temannya dari atas. Namun sial, saat Fred dan Karine sudah sampai diatas tebing, tiba-tiba saja kaki Fred menginjak sebuah perangkap yang biasa digunakan untuk menjerat hewan. Anehnya, siapa yang memasang perangkap diatas tebing terpencil dan terlarang itu? apakah ada orang lain selain mereka?.

Karine cemas, dan bergegas menuju teman-temannya yang masih tersisa dibawah. Saat semua orang sudah sampai diatas tebing, mereka kehilangan jejak Fred. Fred menghilang dari tempat ia terjerat perangkap tadi. Dan, disinilah ketegangan demi ketegangan terjadi, satu-persatu teman-teman mereka hilang dan kemudian ditemukan dalam keadaan mati dengan kepala terpenggal. Makhluk apakah yang memburu mereka diatas tebing itu??

u have to watch this film!! not bad, its totally awesome dan lumayan bikin jantung lo deg-deg-an setengah mati. Ga terlalu banyak darah sich, bahkan hampir tidak ada adegan sadis seperti pemenggalan-pemenggalan kepala, mencongkel mata keluar, menyayat kulit hingga terlihat urat-urat tubuh, ahhh.... semua yang kuharapkan itu tidak muncul di film ini!!! 

tapi..... film ini justru kelebihannya bukan dari adegan-adegan sadisnya, melainkan dari suasananya yang mampu bikin kita merasakan ketegangan, khususnya diadegan-adegan pendakian dan ketololan si Loic yang bikin gue geregetan sepanjang film. Begok banget tuh orang!!. Untuk ukuran film Prancis, film ini layak untuk ditonton, walaupun sebenernya masih kalah seru dibanding RUMAH DARA which is itu film buatan orang lokal kita!!! yiipppey!!! :)


Watch the Trailer:


Senin, 22 Maret 2010

"NADA SOU SOU" Apa kau tau? aku begitu mencintaimu Kak!



Genre: Drama/Romance
Director: Nobuhiro Doi (Be With You)
Starring: Satoshi Tsumabuki, Masami Nagasawaé
RunTime: 2 hrs
Released By: GV & Festive Films
Rating: PG
Official Website: www.festivefilms.com/nadsousou
Opening Day: 29 March 2007
***

Fiuuuh.....
sebenernya dah lama banget nonton film ini, dan film ini sendiri rilis di Jepang tahun 2007 yang lampau.

To be honest, gue lebih suka sama dorama-dorama dari Jepang daripada dorama Korea dan sekitarnya, Boys Before Flowers lah, apa-lah namanya itu (No Offense buat fans Dorama Korea). Beberapa hal yang gue suka dari dorama Jepang adalah: Kalau film-nya genre-nya komedi, pasti isinya bakal komedi total (walaupun tetep ada bagian mengharukannya). Kalau ceritanya tentang Drama, kebanyakan tema yang diangkat juga lebih manusiawi dan lebih down to earth, ga melulu menceritakan cinta-cintaan bak sinetron-sinetron perusak moral yang ada di tiap Chanel TV kita, yang mana anak ingusan umur 12-13 tahun bisa disulap jadi Ibu-ibu dan bapak-bapak kantoran, yang diawal cerita aja udah muncul konflik bertubi-tubi, ada acara adu mulut sampe dower, ada acara jambak-jambakan ampe pitak, dan akhirnya tuh sinetron berhasil bertahan hingga jilid 10, atau bahkan menuju jilid 100. Huhuhu...

Lets start with the synopsis.

Film ini, yang dalam bahasa Inggris artinya: Tears for you, atau dalam bahasa Pandora yang artinya: Air mata untukmu, ini menceritakan tentang seorang yatim piatu bernama Yota (Satoshi Tsumabuki), yang sejak kecil sudah ditinggal ayah-nya. Ibu-nya kemudian menikah lagi dengan seorang pria yang berprofesi sebagai pemain Jazz di sebuah Bar. Ayah tiri-nya itu mempunyai seorang anak gadis bernama Kaoru (Masami Nagasawa), yang secara otomatis menjadi adik tiri-nya Yota.

Hubungan keluarga itu berlangsung harmonis, mereka tinggal di tepi pantai yang indah, dan hubungan adik-kakak antar Yota dan Kaoru pun semakin akrab. Yota sangat menyayangi adik tirinya itu, begitu pun Kaoru.

Namun ke-harmonis-an itu tak berlangsung lama, Ayah tiri Yota yang sekaligus ayah kandung Kaoru pergi meninggalkan rumah demi karirnya sebagai pemain jazz, dan itu membuat Ibu Yota terpukul hingga akhirnya depresi dan masuk rumah sakit. Kedua anak manis itu berdiri disamping Ibu-nya yang sedang terbaring dirumah sakit. Dan sangat tidak disangka, sang Ibu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Ada satu pesan yang disampaikan Ibu-nya kepada Yota, yakni agar selalu menjaga adiknya Kaoru dengan baik. Tapi, mereka pun harus terpisah, karena Kaoru akan tinggal bersama neneknya.

Beberapa tahun kemudian, Kaoru memutuskan untuk melanjutkan sekolah SMA-nya di kota tempat kakaknya, Yota tinggal. Yota senang sekali saat mendengar kabar itu, akhirnya setelah sekian lama ia tidak bertemu dengan adiknya, rasa rindu itu bisa terwujud dengan kehadiran Kaoru. Dan pertemuan itu pun sangat mengharukan, Yota memeluk Kaoru dengan mata berkaca-kaca.

Mulai saat itu, Yota bekerja keras demi pendidikan adiknya, menjadi pelayan restoran, hingga bekerja sebagai kuli bangunan. Ia ingin adiknya sukses, tidak seperti dirinya yang tidak mampu mengenyam bangku pendidikan karena masalah perekonomian. Hal ini membuat Kaoru merasa terbebani, hingga akhirnya, diam-diam Kaoru bekerja disebuah hotel untuk membantu masalah keuangan Kakaknya itu. Namun, Yota marah begitu mengetahui hal itu, ia merasa bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga adiknya itu.



Setelah Kaoru lulus SMA dengan hasil yang memuaskan, ia memutuskan untuk tidak lagi menetap dirumah kakaknya itu, ia ingin tinggal dirumah kontrakan dekat dengan tempatnya akan kuliah. Sebenarnya, itu hanya alasan agar Kaoru bisa sedikit meringankan masalah ekonomi kakaknya, karena sekarang Kaoru sudah punya penghasilan dari bekerja paruh waktu. Namun ada satu hal yang akhirnya Kaoru sadari, bahwa sesungguhnya ada perasaan lain yang ia rasakan pada kakaknya itu, perasaan CINTA, bukan cinta antar Adik-kakak, melainkan cinta antar lawan jenis. Dan adegan perpisahan itu sangat mengaharukan.... wehehehe... love this scene..!! ^^

Bagaimana selanjutnya???? u must see....!! hehehe...

Secara keseluruhan, gue suka banget ama ni film, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat melihat pengorbanan sang kakak yang rela bekerja keras hingga sakit-sakitan demi adiknya tercinta itu. Melihat sang adik yang sangat menyayangi kakaknya itu, bikin gue terharu. Tiap adegan nangis, pasti Yota akan memencet hidung-nya, yang menurutnya dengan memencet hidung, maka air mata tidak akan keluar, tapi tetep aja air mata ngalir makin deres.... huehehehe...

Tapi sayang, adegan klimaks-nya tidak dibuat terlalu mengharubiru, sehingga kesannya terlalu terburu-buru, dibagian akhir juga agak sedikit lama menuju another klimaks-nya, jadi agak sedikit geregetan nungguin-nya.

But, so far ni film OKE juga!! ceritanya sederhana tapi ngena banget.
patut ditonton!! oh iya, film ini diangkat dari lirik lagu Rimi Natsukawa berjudul sama Nada Sou Sou yang sangat populer di Jepang.

Ost-nya juga enak banget, menyentuh sekali......

Download Ost-nya:

Rimi Natsukawa-Nada Sou Sou

Begin-Sanshin No Hana

Rimi Natsukawa Feat Begin, Moriyama Yoshiko-Nada Sou Sou


watch the trailer:

Moriyama Yoshiko, Natsukawa Rimi, BEGIN - Nada Sou Sou


Furui ARUBAMU mekuri
Arigatou tte tsubuyaita
Itsumo itsumo mune no naka
Hagemashite kureru hito yo
Hare wataru hi mo ame no hi mo
Ukabu ano egao
Omoide tooku asete mo
Omokage sagashite
Yomigaeru hi wa nada sousou

Ichiban hoshi ni inoru
Sore ga watashi nokuse ni nari
Yuugure ni miageru sora
Kokoro ippai anata sagasu
Kanashimi ni mo yorokobi ni mo
Omou ano egao
Anata no basho kara watashi ga
Mietara kitto itsuka
Aeru to shinji ikite yuku

Hare wataru hi mo ame no hi mo
Ukabua no egao
Omoide tooku asete mo
Samishikute koishikute
Kimi he no omoi nada sousou
Aitakute aitakute
Kimi he no omoi nada sousou


Download Mp3 nya disini

BEGIN-Sanshin No Hana (Ost Nada Sou Sou)


Itsu shika wasure rareta oji no katami no sanshin
Toko no made tanjo iwai no shima zake ni motarete
Hokori wo yubidenadete yurun daito makeba
Taiku tsude tamara nakatta shima uta ga hibiita
Azayaka ni yomigaeru anata to sugoshita hibi wa
Yawara kana itoshi sade kono mune wo tsuki ya buri
Saita no wa sanshin no hana

Terebi no nana me mukai no
Anata ga ita masho ni
Suwareba aroni no madokara
Yoru tsuki ga noboru
Kazoku wo nagame nagara
Nobu sake wa donna aji
Nemuri ni tsuku mae no
Uta wa daremo uta
Yorokobi mo kanashimi mo
Itsu no hika uta erunara
Kono shima no tsuchi no naka
Aki ni naki fuyu ni tae haru ni saku sanshin no hana

Kono sora no ano umi mo
Nai mo katani mashi nai
Kono shima ni atatakana
Kaze no nari ame no yobi
Saita no wa sanshin no hana
Aki ni naki fuyu ni tae haru ni saku sanshin no hana


Download Begin-Sanshin No Hana mp3

Rimi Natsukawa " Nada Sou sou "


Furui ARUBAMU mekuri
Arigatou tte tsubuyaita
Itsumo itsumo mune no naka
Hagemashite kureru hito yo
Hare wataru hi mo ame no hi mo
Ukabu ano egao
Omoide tooku asete mo
Omokage sagashite
Yomigaeru hi wa nada sousou

Ichiban hoshi ni inoru
Sore ga watashi nokuse ni nari
Yuugure ni miageru sora
Kokoro ippai anata sagasu
Kanashimi ni mo yorokobi ni mo
Omou ano egao
Anata no basho kara watashi ga
Mietara kitto itsuka
Aeru to shinji ikite yuku

Hare wataru hi mo ame no hi mo
Ukabua no egao
Omoide tooku asete mo
Samishikute koishikute
Kimi he no omoi nada sousou
Aitakute aitakute
Kimi he no omoi nada sousou


Download Nada Sou Sou Mp3

Senin, 15 Maret 2010

"HACHIKO: A Dog's Story" --> Touching Banget


Jenis Film : Drama – Semua Umur (general)
Produser : Richard Gere, Bill Johnson, Vicki Shigekuni Wong
Produksi : Inferno Production
Durasi : 104
Pemain : Richard Gere
Joan Allen
Sarah Roemer
Erick Avari
Jason Alexander
Sutradara : Lasse Hallstrom
Penulis : Stephen P. Lindsay

Resensi:
(Spoiler Alert)


Akhir-akhir ini banyak banget film bagus yang udah gue tonton tapi belum sempet gue bikin reviewnya, nampaknya penyakit syndrom "malas bikin review" gue kambuh lagi nih, hehehe.

Kemaren nih, gue dapet stok Film lumayan banyak dari temen gue, mungkin ada lebih dari 10-an. Tadinya sih mau gue lahap aja malem itu juga sebagai santapan malam, kan kalo ga habis bisa diangetin tuh buat besoknya, hehe. Tapi dari sekian banyak film yang gue dapet dari teman gue itu, ada satu film yang nampaknya cukup membangkitkan birahi gue untuk menontonnya. Nampak menggiurkan!! kalo ibarat buah-buahan, seger banget nampaknya. Film yang bikin gue langsung bergairah untuk menontonnya adalah film: HACHIKO: A Dog's Story. Beberapa alasan kenapa gue sangat tertarik buat nonton nih film antara lain:

- Ini film tentang Pets alias hewan peliharaan, well, as u know guys, i'am an animals lover. huehe..

- Ini adalah film hasil remake dari film Jepang yang katanya menuai sukses, padahal gue sendiri belum pernah nonton versi Jepang-nya.

- Film ini di bintangi dan di produseri oleh Richard Gere, bukan berarti gue nge-fan ama dia loh, persepsi gue, kalo aktor sekelas Gere berani memproduseri dan bermain di film ini, berarti film ini bukan film yang digarap secara ecek-ecek.

- Dan, alasan terakhir ini lah yang bikin gue semakin mantap untuk nonton film ini. Yep, film ini ternyata diangkat dari kisah nyata yang telah melegenda di Jepang. Entahlah, gue demen aja nonton film yang diangkat dari kisah nyata.

****

OKE, mari kita lanjutkan resensi-nya.

Well, sebenarnya tidak ada yang menarik dari alur cerita film ini, sangat sederhana, tidak terlalu banyak konflik sehingga nyaris tanpa konflik. Mungkin bagi yang sudah pernah menonton film MARLEY AND ME, film HACHIKO ini tidak berbeda jauh dengan film itu. Hanya saja, HACHIKO lebih kental menceritakan tentang kesetiaan, penantian dan persahabatan.

CERITA dimulai saat Parker Wilson (Richard Gere), seorang Professor perguruan tinggi yang tidak sengaja menemukan seekor anak anjing yang tersesat disekitar stasiun kereta api pada saat pulang kerja. Awalnya, Parker tidak menginginkan untuk memelihara anak anjing itu. Dia berniat akan mencari siapa pemilik anjing malang tersebut, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Dia berniat memberikan anak anjing itu kepada siapapun yang menginginkannya, terlebih, istrinya tidak menyukai ada anjing dirumahnya. Tapi putri Parker yang akan segera menikah justru menyukai anak anjing itu, melihat hubungan yang terjalin antara si anak anjing, putrinya dan suaminya itu, lalu terenyuhlah hati Nyonya Parker untuk membiarkan anak anjing itu menjadi bagian dari keluarganya.

HACHI, begitu nama anjing yang diketahui dari nama yang terukir dikalungnya itu. Hachi berarti 8 (delapan), ada kemungkinan Hachi adalah anjing ke-delapan yang dilahirkan induknya.

Hubungan Parker dengan Hachi semakin akrab. Hachi semakin tergantung pada tuannya. Parker mengajari banyak hal pada Hachi, mengambil koran, berputar, dan sebagainya. Tapi hanya satu yang tidak dapat Hachi lakukan, bermain bola lempar. Biasanya, anjing paling senang kalau bermain lempar bola bersama tuannya, sang tuan melempar bola, dan si anjing menangkapnya lalu mengembalikannya pada sang tuan. Tapi itu tidak terjadi pada Hachi, diajarkan berapa kali-pun Hachi tetap tak dapat melakukannya.

Parker biasa berangkat kerja menggunakan Kereta. Jarak rumah menuju ke stasiun tidak terlalu jauh, dan berjalan menuju stasiun sudah menjadi kegiatan rutin Parker setiap harinya. Namun, saat Parker hendak berangkat menuju stasiun, Hachi mengikutinya dari belakang. Parker menyuruh Hachi untuk pulang, namun Hachi tetap ingin mengantar tuannya hingga stasiun. Dan alangkah terkejutnya Parker, begitu Hachi mengantarnya sampai stasiun untuk naik kereta, maka Hachi akan pulang ke-rumah dan akan kembali lagi ke stasiun jam 5 sore untuk mejemput tuannya. Hachi menunggu di taman dekat stasiun, beberapa teman Parker di sekitar stasiun sudah banyak yang mengenal Hachi, jadi tidak aneh bagi mereka melihat Hachi duduk di taman menunggu tuannya pulang dari bekerja. Dan begitulah setiap harinya, Hachi selalu pergi mengantarkan Parker hingga stasiun dan akan menjemputnya jam 5 sore, yaitu saat peluit kereta api berbunyi.

Suatu ketika, saat Hachi akan mengantar Parker menuju Stasiun, tiba-tiba saja Hachi ingin bermain bola lempar bersama Parker. Dan betapa terkejutnya Parker, ternyata Hachi tahu bagaimana cara bermain bola lempar. Saat Parker hendak pergi menuju kereta-nya, Hachi menggonggong, Parker menoleh dan kembali menuju Hachi lalu memeluknya.

"Jemput aku jam lima sore ini"


begitulah kata sang tuan. Hachi memandangnya lekat hingga sang tuan menuju keretanya.
Dan sangat tidak disangka, ternyata, itu adalah pertemuan terakhir Hachi dengan tuannya. Karena, Parker telah meninggal saat mengajar di kampus akibat serangan jantung. (Damn it!!).

Pluit kereta api sudah berbunyi dan jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Hachi sudah berada di tempat penantiannya. Hari itu musim dingin, beberapa jalanan sudah tertutup salju, namun Hachi masih tetap menanti kedatangan tuannya hingga malam. Akhirnya, Hachi dijemput oleh putri Parker untuk pulang. Sang istri dan sang putri sangat bersedih akan kepergian sang suami tercintanya. Namun Hachi tidak pernah dan mungkin tak mau tahu kalau sang tuan sudah pergi meninggalkannya selamanya.

Hachi harus tinggal bersama putri Parker yang sekarang sudah menikah, dan meninggalkan rumah kenangannya bersama sang tuan, karena rumah itu telah dijual dan ditinggalkan oleh istri Parker.

Hachi tidak pernah tau kalau tuannya telah meninggalkannya selamanya. Hingga suatu ketika dia kabur dari rumah putri Parker dan berlari menuju stasiun. Dia duduk ditempat penantiannya, seperti biasa. Beberapa orang yang mengenalnya merasa iba pada Hachi, dan juga kagum akan kesetiaannya pada tuannya. Beberapa diantara mereka rajin memberi makan dan minum Hachi yang sudah mulai terlihat kurus. Bahkan, cerita kesetiaan Hachi terhadap tuannya kini mulai merebak dikalangan masyarakat, dan berita itu dimuat disurat kabar, hingga membuat banyak orang iba dan datang hanya untuk memberikan Hachi makan. Begitulah, Hachi terus menunggu kedatangan tuannya hingga 9 tahun di stasiun itu, berharap kalau ia akan melihat tuannya keluar dari pintu gerbang stasiun dan menyambutnya dengan pelukan. Namun, tuannya tak kunjung datang, bahkan hingga akhirnya Hachi-pun menutup matanya untuk selama-lamanya.

HUHUHUHU.....
merinding gue nontonnya!! sumpah, ceritanya mungkin ga begitu luar biasa, tapi pesannya begitu ngena banget. Bikin gue benar-benar terharu. Temen gue malah ada yang ampe meneteskan air mata. Keren deh pokoknya!!!

O iya, btw. Untuk mengenang Hachi, maka stasiun Kereta di Tokyo, Jepang. mendirikan patung anjing (Hachi) di taman tempat Hachi biasa duduk menunggu tuannya. Nama tuannya yang asli adalah Hidesaburo Ueno, Hachi dibawa oleh tuannya ke Tokyo pada tahun 1924.


Anyway, gue suka banget sama film ini!! RECOMENDED banget dah.
Gue jadi inget pengalaman gue dulu waktu pertama punya kucing, di pelihara dari orok hingga cukup gede, namun disuruh dibuang ama ibu gue gara-gara tuh kucing nakal banget. Gue pun nurut aja, tapi, anehnya, tuh kucing walaupun udah gue buang jauh-jauh, tapi masih bisa menemukan jalan pulang. Ampe akhirnya gue buang ke tempat yang lumayan jauh, dan bener aja, tuh kucing ga balik-balik, gue penasaran, gue cari tuh kucing, dan menemukannya sedang dirawat oleh seseorang disebuah rumah yang lumayan besar, dan gue bener-bener merasa kehilangan kucing itu, ampe kaga mau makan 5 hari 7 malam. (Curhat Colongan) :p Huhuhuhu....

Puss.. pusss.. come out come out wherever you are...!!!!

watch the trailer's here:

Source Gambar
Counter Powered by  RedCounter